Seperti harga atribut timnas yang makin hari makin melonjak, seperti itu pula antusiasme masyarakat Indonesia pada prestasi timnas tercinta di ajang Piala AFF.
Perjalanan panjang yang dimulai dengan meluluhlantakkan negeri Upin-Ipin dengan 5-1. lalu ganti Laos yang menjadi bulan-bulanan dengan kenyataan 6-0 di hadapan. Hasil sempurna di babak penyisihan Grup A dengan membalik keadaan menjadi 2-1 atas raksasa Thailand. Dua gol penalti pemain favorit saya sepanjang masa, Bambang Pamungkas, seakan menenggelamkan Sabang sampai Merauke pada ingar-bingar pesta Piala AFF. Meski ini belum juga usai. Pun the real party is not begin. Perlahan tapi pasti, Garuda yang dulu terlelap kini merangkak untuk siap terbng tinggi di Asia Tenggara lalu menyusul Asia dan dunia. Tak ada yang tak mungkin kan?!
Pembuktian itu ditunjukkan oleh sundulan Cristian “CrisGol” Gonzales melalui kerja sama Pasuka Garuda atas lawan tangguh, Filipina. Saya dan ratusan juta masyarakat Indonesia yakin bahwa kali ini Indonesia akan berkuasa! Meski begitu, tak bisa dipungkiri bahwa kekurangan di tiap lini masih terasa benar. Tapi sekali lagi, gelar Raja Asia Tenggara seolah sesuatu yang pasti jadi milik Garuda saat (lagi-lagi) El Loco membuat Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) menjadi semakin merah dengan gol semata wayangnya di Semifinal Leg 2 melawan Filipina. Pemain naturalisasi, yang harus menunggu lima tahun untuk menjadi WNI dan membela timnas, membawa mimpi itu tak sekedar impian. Tapi mimpi itu bisa terwujud, dengan mata terbuka!
Kemeriahan itu menjadi kegilaan ketika Garuda melangkah ke final. Dan Harimau Malaya sudah berdiri di sana lebih dulu dengan melumat Vietnam. Kegilaan namanya ketika tiap stasiun televisi terus-menerus menampilkan berita seputar timnas. Bahkan bagi gerombolan infotainment yang juga ingin eksis. Lumayan untuk menaikkan rating. Kegilaan namanya ketika seorang bapak rela ke kota besar, Jakarta, demi mendukung timnas dengan sebelumnya menjual kambing untuk membeli tiket masuk. Kegilaan namanya ketika pejabat bahkan Presiden memilih nonton langsung di SUGBK ketimbang menyelesaikan tugas-tugas yang tak selesai. Kegilaan namanya ketika lembaga sekelas pondok pesantren mengadakan istghosah bersama pemain timnas. Kegilaan namanya ketika tukang becak mentato lambing Garuda di dadanya. Kegilaan namanya ketika para bapak rela memelontosi kepala mereka demi memberi dukungan untuk timnas. Kegilaan namanya ketika banyak orang mengantri berdesak-desakan di loket hingga menyebabkan satu orang meninggal dan tak sedikit tumbang tak sadarkan diri. Kegilaan namanya ketika tenda-tenda didirikan di lingkungan SUGBK demi menunggu esok untuk mendapatkan tiket. Kegilaan namanya ketika orang-orang rela meninggalkan rumah sejak subuh demi mengantri awal. Kegilaan namanya ketika orang-orang siap membayar dua kali lipat emi mendapatan tiket, yang belakangan diketahui adalah tiket palsu. Kegilaan namanya ketika setiap pagi gerombolan, yang mengaku supporter, berdiri di balik pagar pembatas, memandang penuh harap pada pemain timnas yang sibuk berlatih, yang bahakn sebagian besar berasal dari luar Jakarta, termasuk seorang ibu dari Tasimalaya. Juga kegilaan namanya ketika empat orang perempuan, yang belum pernah ke SUGBK dengan angkutan umum, memberanikan diri dating untuk mendukung langsung timnas Indonesia (yang ini saya dan tiga adik perempuan saya).
Dan kemarin, kenyataan itu di depan mata. Ketika Harimau Malaya merobek kandang Garuda tanpa ampun. Sakit rasanya menyaksikan Pasukan Garuda dipencundangi 3-0 di tanang tetangga sekaligus musuh bebuyutan.
Tak perlu lah menyebut laser atau serbuk gatal bagi Markus yang menjadi penyebab kekalahan kita. Buat apa segala kambing hitam itu? Karena memang tidak perlu melakukan semua itu.
Ini memang jawaban atas usaha pemain dan doa masyarakat Indonesia.dan ini hanya bagian kecil dari ketetapan Tuhan. Tuhan melihat kegilaan-kegilaan itu dan Dia terlalu sayang pada kita, masyarakat Indonesia, hingga tak ingin kita terlena pada setiap kemenangan. Tuhan hanya tidak ingin kita menjadi sombong karena prestasi timnas kali ini. Tuhan ingin kita lebih bersyukur dan tetap rendah hati.
Bagi saya, Tuhan ingin melihat sejauh mana kesetiaan kita pada timnas. Menang dan dielukan dengan segala pujian, itu wajar. Tapi apa yang akan terjadi jika timnas dilibas tiga gol tanpa balas? Akankah kita tetap setia mendampingi timnas meretas jalan di hadapan? Akankah kita tetap berteriak “GARUDA DI DADAKU”? Atau justru mencaci tanpa henti?
Jika Anda memang cinta pada Garuda dan pasukannya, maka Anda tidak akan mengganti channel televisi atau pulang lebih dulu dari stadion saat timnas kalah karena alasan kecewa.
Jangan Anda bertindak seolah Kapten Firman dan pasukannya tidak kecewa atas kekalahan di Bukit Jalil. Kekecewaan terbesar ada di hati dan pikiran mereka.
Tidakkah Anda pernah berpikit bahwa sesungguhnya, mereka berjuang untuk Anda! Mereka berjuang untuk doa Anda. Mereka berjuang untuk kedatangan Anda. Mereka berjuang untuk teriakan dan nyanyian Anda. Mereka berjuang untuk segala pengorbanan Anda.
ANDAI PUN TAK JADI RAJA ASIA TENGGARA, TETAPLAH GARUDA DI DADAKU!!!